Minggu, 02 Oktober 2011

Invention of Camera

It is next to impossible to capture a photo without a camera. A camera is a device, which enables the recording of still and moving photographs within seconds. Without camera, it was never possible to capture good memories.

Camera was first designed by Joseph N. Niepce, who was from France, a retired Military Officer. He invented the first camera in 1826 in France. His camera known as "Obscura" had two wooden boxes out of which one box had a lens and the other had a screen, which was green in color. He then invented a diaphragm, which helped in the clarity of the image by sharpening the image.

The first discovery of the camera was made by a German Mathematician, Friedrich Risner. As there were more and more developments in the technology of camera, this led to improvement in the quality of pictures, film, flash and color pictures. With all these improvements and the developments in the camera, today we are able to see our past in our present. If there were no camera to capture our past, it would have been simply impossible to record our memories and moments of the past.

Alhazen was the person, who invented the first Pinhole Camera, also known as "Camera Obscura". It made the people know the true reason as to why the image often was upside down. Joseph N. Niepce made the first photographic image. The main idea of Joseph was to capture the image by making the light draw the picture.

With many inventors, there was a development of a modern photography. In 1829, it was Louis Daguerre in partnership with Joseph N. Niepce, who made a major improvement in photography. However, soon after the death of Joseph N. Niepce, Louis took over the charge to develop the most modern photography, which was named with his name as daguerreotype. He together with the son of Niepce sold its right to the government of France. He then gained a wide popularity and subsequently, there were as many as seventy photo studios developed in the city of New York.




Rabu, 31 Agustus 2011

Arti sebenarnya dari kalmat " Minal Aidin wal Faizin "

Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti makna yang salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda makna padahal cuman salah satu huruf bukan?

Kesalahan Pemahaman Makna
Kedua, kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” acapkali didengar atau ditulis di media massa, di film, sinetron, acara halal-bihalal, atau ketika kita bertemu teman atau sudara. Akan tetapi banyak yang menyangka bahwa arti kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah “Mohon Maaf Lahir Dan Batin” seperti yang sering kita dengar. Padahal sama sekali bukan.

Kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah penggalan sebuah doa dari doa yang lebih panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yakni : “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”. Sehingga arti sesungguhnya dari “Minal Aidin wal Faizin” adalah “Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Demikian sedikit penjelasan semoga berguna bagi kita semua. Mari kita membiasakan kebenaran bukannya membenarkan kebiasaan.. :-)


( Di kutip dari forum.detik.com )



Perbedaan Idul Fitri

Politisi PKS Hidayat Nur Wahid mengimbau umat Islam tidak perlu bingung atas perbedaan penetapan 1 Syawal 1432 Hijriah. Bagi Hidayat, perbedaan Idul Fitri tidak akan merusak umat, tapi justru mendewasakan umat Islam.

"Kalau semua berasal dari upaya maksimal berdasarkan ketentuan Allah dan ketentuan Rasul untuk menghadirkan Idul Fitri, saya rasa ini tidak apa-apa. Saya berpendapat ini tidak akan merusak umat, namun malah mendewasakan umat," kata Hidayat.

Hal ini disampaikan Hidayat usai menjadi khatib salat Idul Fitri di Masjid Agung Al-Azhar, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2011).

Dikatakan mantan Ketua MPR ini, dalam kehidupan beragama banyak yang tidak sepenuhnya sama, seperti zakat dan juga penyelenggaraan haji.

"Fiqih memang memberi ruang untuk sesuatu yang berbeda, namun semangat kebersamaan ini tetap penting. Kita tidak perlu saling mencaci atas perbedaan ini. Seharusnya, ini malah menguatkan kita. Kita juga perlu menggunakan semangat Bhinneka Tunggal Ika," papar Hidayat yang bergegas hendak bertolak ke Yogyakarta ini.

( Di kutip dari detiknews.com )